Sirah Community Indonesia

Wanita Pengusaha di Sekitar Nabi SAW di Masa Jahiliyah dan Islam

Jangan salah sangka, sejarah mencatat bahwa masyarakat Quraisy sangat menghargai pedagang, bahkan yang bukan pedagang dianggap tidak memiliki kedudukan penting. Di tengah tradisi ini, wanita-wanita justru bersinar sebagai pengusaha yang sukses dan disegani.

  • Nutailah binti Janab, ibu Abbas bin Abdul Muththalib, adalah wanita kaya yang bahkan mampu menanggung biaya kiswah Ka`bah dengan kain sutra.
  • Dzat an-Nahyain, seorang penjual minyak samin, begitu terkenal hingga namanya menjadi bagian dari peribahasa karena kesibukannya.
  • Asma’ binti Mukharrabah, ibu dari beberapa tokoh Bani Makhzum termasuk Abu Jahal, dikenal sebagai “Wanita Beraroma Parfum” karena profesinya sebagai pedagang parfum, yang terus digelutinya hingga hijrah ke Madinah.
  • Dan tentu saja, Khadijah binti Khuwailid RA adalah pedagang kelas kakap yang mengendalikan perdagangan besar, mempekerjakan banyak laki-laki dengan skema bagi hasil atau upah, bahkan kafilah dagangannya setara dengan gabungan kafilah pedagang Quraisy lainnya.

 

Hebatnya lagi, peran ini tidak berhenti setelah kedatangan Islam. Wanita seperti Qaylah al-Anmariyyah menyatakan langsung kepada Rasulullah SAW bahwa ia adalah wanita yang aktif jual beli. Raithah ats-Tsaqafiyyah bahkan menafkahi suami dan anak-anaknya dari hasil keterampilan tangannya dan mendapatkan konfirmasi pahala dari Nabi SAW. Bahkan Hindun binti `Utbah meminjam uang dari Baitul Mal untuk berdagang keliling.

Ini menunjukkan bahwa wanita-wanita memiliki peran ekonomi yang kuat dan diakui dalam masyarakat Islam awal. Mereka adalah bukti nyata bahwa kewirausahaan wanita telah ada sejak lama dan memiliki dampak signifikan!

Pengajar:
Ustadz Asep Sobari, Lc.
(Pendiri Sirah Community Indonesia)

Sampai jumpa di kelas ini ! 😁

by Sirah Community Indonesia